Apakah aku melibatkan Dia dalam setiap langkahku dan hidupku ?..
Kalimat itu menjadi simpulan refleksiku ketika suatu hari, di minggu siang aku terlibat diskusi dan sharing dengan seorang teman, Apin di Ubud, Bali.
Menjadi tanya bagiku, karena aku harus mengakui bahwa aku sendiripun bingung..Yang aku tau, aku telah memasang suatu benteng bagi diriku untuk menjadi strong women behind my brittle; melawan arus takut dengan melihat diri sendiri di cermin, berbicara berteriak marah pada diri sendiri, dan menantang diri sendiri untuk sesuatu impian agar terpenuhi..
Aku sendiri secara positif mengatakan bahwa aku yakin bahwa Dia pasti akan melindungiku, menyertaiku, dan membimbingku dalam mencapai suatu mimpi..Keyakinan itu memang tidak terlalu menonjol dibanding kekuatan diri yang selalu kutonjolkan..Mengapa ?.. Karena aku tidak ingin terlihat seperti orang yang terlalu sok rohani..biarlah aku berjalan seperti ini..Dia, yang memang selalu kuyakini sebagai Final Decision tersembunyi jauh disini..(dalam hati..dalam dan dalam).
Ketikapun terjadi kesedihan yang dalam, tidak perlu Dia yang kumaki dan kutuntut..Cukup diriku..Air mataku cukup hanya diriku dan manusia terdekat yang bisa melihatnya..diluar itu, aku musti membangun benteng kekuatan, pertahanan sebagai wanita kuat..
Cermin .. dialah orang yang selalu aku ajak bicara untuk membantuku dalam menghadapi segala tantangan-tantangan.. Gila mungkin jika orang melihatku, tapi itu lah..
Jadi, ketika aku ditanya, apakah aku melibatkan dia dalam setiap langkahku, rencana hidupku ? Apakah aku berjalan dengan kekuatan diri ?
ah..mungkin itu yang dilihat setiap orang dalam diriku.
Sadar juga sih diriku ketika bicara iman, “hambar ?”.. iya..
Aku sih inginnya kembali ke aku yang dulu, yang rajin membaca renungan dan kitab suci..Tapi, saat ini aku menemukan inti dari semua buku bacaan renungan adalah kebaikan, pikiran positif, kasih, memberi, rendah hati..Rasanya dari waktu ke waktu, aku menyimpulkan sama..sehingga malaspun aku membacanya..
Aku sendiri mengatakan pada Apin, “sebenarnya orang yang bisa membuat kita kuat, mau melangkah kemana kita, harus bagaimana kita, adalah diri kita sendiri..bukan orang lain, bukan suami, bukan sahabat..KITA, AKU..AKU DIRIKU” dan pernyataan ini yang membuat kesan akhirnya aku berjalan dengan kekuatan diri sendiri..Where is He ?.. Dia tak tampak dalam setiap pembicaraan, dia ada dan dia didalam hati membantu menguatkan..bener gak sih..hahahaa… Teoriku sendiri nih..
Jadi, biarlah pertanyaan ini terus menjadi refleksi diriku ?.. mau dibilang ateis pun terserahkan..Aku yakin kok, suatu hari nanti aku akan menemukan jawaban yang pas atas situasi yang ada dalam diriku..
Batuyang, Maret akhir 2011
Jolie Kaban